Kisah Cinta Tak Sampai Mughits kepada Barirah

30 Mar

Gambar

Ada sebuah kisah cinta yang menarik yang terjadi di masa ketika Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam masih hidup, tentang kehidupan antara Mughīṡ dan Barīrah. Mereka berdua termasuk ṣaḥābat nabi, yang dulunya terikat pernikahan ketika mereka berdua masih menjadi budak. Kemudian, Ibunda kaum muslimin, ‘Aisyah, membeli Barīrah lalu memerdekakannya. Setelah itu, Barīrah diberikan pilihan, apakah ingin tetap bersama Mughīṡ, ataukah cerai karena dalam Islam terdapat ketetapan bahwa jika seorang budak wanita merdeka, ia punya hak untuk melanjutkan status pernikahan suami yang masih berstatus budak, atau memutuskan untuk meninggalkan suaminya tersebut. Lalu, Barīrah memilih cerai. Cerita ini dimuat dalam hadīṡ ṣaḥīḥ yang diriwayatkan oleh Al-Bukhārī, sebagai berikut

Dari ‘Ibnu ‘Abbas raḍiyallāhu ‘anhumā, (ia berkata)

“sesungguhnya suami Barīrah adalah seorang budak.”

‘Ibnu ‘Abbas berkata tentang Mughīṡ,

“Aku ingat, tatkala hal itu terjadi, Mughīṡ mengikuti Barīrah kemana pun Barīrah pergi, sambil menangis dan air matanya mengalir deras hingga membasahi jenggotnya.”

Kemudian Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata kepada ‘Abbas (Ayah ‘Ibnu ‘Abbas) tatkala melihat kejadian tersebut,

“Wahai ‘Abbas, tidakkah engkau merasa takjub atas besarnya cinta Mughīṡ terhadap Barīrah, dan besarnya rasa benci Barīrah terhadap Mughīṡ?”

Maka, Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pun bertanya kepada Barīrah,

“Bagaimana jika Engkau kembali pada Mughīṡ?”

Barīrah menjawab,

“Apakah ini perintahmu Wahai Rasulullāh?”

Nabi menjawab,

“Aku hanya memberi syafa’at (saran untuk ruju’).”

Kemudian Barīrah menjawab,

“Aku sudah tidak membutuhkannya lagi.”

Sungguh kisah yang sangat menarik, di dalamnya terdapat banyak faidah dan hikmah yang dapat diambil, yaitu:

  • Tentunya yang paling menarik adalah kisah cinta antara Mughīṡ dan Barīrah. Dapat kita lihat bahwa sangat besarnya cinta Mughīṡ kepada Barīrah, sampai-sampai saat Barīrah pergi, Mughīṡ mengikuti Barīrah dari belakang. Tidak sampai di situ, Mughīṡ mengikuti Barīrah dalam keadaan  air matanya bercucuran, hingga basahlah jenggotnya.
  • Sebuah kenyataan pahit yang dialami oleh Mughīṡ, padahal rasa cinta Mughīṡ begitu besar terhadap Barīrah, akhirnya kandas berujung perceraian. Terkadang rasa cinta yang dimiliki, tidak menyebabkan langgengnya suatu pernikahan. Terbukti bahwa besarnya rasa cinta Mughīṡ kepada Barīrah akhirnya tidak dapat mengalahkan besarnya rasa benci Barīrah kepada Mughīṡ.
  • Seorang yang sudah benar-benar jatuh cinta, dia akan melakukan apa saja, bahkan bisa dikatakan sebagai pengemis cinta, agar cintanya dapat diterima. Orang yang jatuh cinta, hatinya tidak ingin lepas dari orang yang ia cintai. Sungguh tersiksa hati orang yang sedang jatuh cinta, terjerat cinta. Ia akan selalu memikirkan orang yang ia cintai, meskipun orang yang ia cintai tidak memikirkannya, bahkan membencinya. Menyedihkan!
  • Mughīṡ dan Barīrah menikah ketika mereka sama-sama menjadi budak, sehingga diperbolehkannya sesama budak untuk menikah. Namun, ketika budak perempuan itu merdeka, ia memiliki hak pilih atas suaminya (yang masih menjadi budak), apakah tetap bertahan ataukah cerai. Hal ini juga mengisyaratkan adanya pertimbangan sekufu (selevel, pent.) dalam pernikahan karena Nabi memberikan hak pilih kepada Barīrah ketika ia dimerdekakan, sedangkan Mughīṡ masih berstatus budak.
  • Ḥadīṡ ini juga menceritakan betapa cerdasnya Barīrah. Ketika Nabi bertanya, ia menjawab apakah ini adalah perintah Nabi. Jika hal itu adalah perintah Nabi, mau tidak mau Barīrah harus mendengar dan taat. Ternyata Nabi hanya memberi saran agar ia ruju’ kepada Mughīṡ. Ini menunjukkan betapa besar semangat shahabat nabi dalam mematuhi perintah Rasulullāh ṣalallāhu ‘alaihi wa sallam.
  • Di dalam Ḥadīṡ ini, diketahui posisi nabi sebagai pemberi syafa’at (pihak penengah atau perantara). Dengan demikian, dibolehkan meminta bantuan “pihak penengah” untuk dimintai pertimbangan ketika hendak menikah. Pihak penangah ini bisa  seorang yang disegani oleh sang wali nikah, seperti kyai, ustāż, atau tokoh masyarakat yang disegani.
  • Faidah terakhir, tangisan Mughīṡ hingga membasahi jenggotnya menunjukkan bahwa para ṣaḥābat itu memelihara jenggot karena jenggot adalah perintah dari Rasulullāh. Rasulullāh ṣalallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

Selisihilah orang-orang musyrik! Biarkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis!” (HR. Al-Bukhari)

artikel: www.pemudamuslim.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: