BERTEMU SRI SULTAN (DI JOGJA)

12 Nov

Syaikh Ali Thanthawi -rahimahullah- berkata:

“Diantara agenda perjalan adalah kunjungan ke keraton. 
Hari itu bertepatan dengan hari libur, namun Sri Sultan berkenan datang untuk bertemu kami di tempat kerjanya pada waktu yang sudah dijanjikan.

Saat itu keraton terlihat sepi, kami menunggu beberapa menit diruang sekretaris untuk kemudian dibawa bertemu Sri Sultan di gedung yang cukup luas, menyerupai gedung-gedung Syam diimasa lampau.

Didepan pintu gedung kami menjumpai seorang pemuda yang masih belia, kulitnya sawo matang lengkap dengan seragam putih. 
Dia menuntun kami menuju kursi-kursi yang sudah tertata rapi ditengah ruangan.

Kamipun duduk berbincang bersama seorang penerjemah yg memediasi kami. Tak lama, teh dihidangkan dan kami meminumnya.
Perbincangan semakin panjang, menunggu terlalu lama membuat kami merasa bosan. 

Aku bertanya pada penerjemah, “Kenapa protokoler ini seolah menelantarkan kita..? 
Kapan kita akan bertemu dengan Sri Sultan..?
Penerjemah hanya tersenyum tanpa bicara. (Melihat penerjemah tersenyum) anak muda tadi bertanya pada sang penerjemah (apa yg membuatnya tersenyum..?). 
Penerjemah mengucapkan kata-kata yang membuat anak muda itu malah tertawa. Bahkan para hadirin juga ikut tertawa.

Aku dan sahabatku terdiam sejenak, apa sebenarnya yang terjadi..?

Anak muda itu akhirnya mengerti dan mengucapkan sesuatu pada sang penerjemah. Setelah penerjemah menerjemahkannya baru kami tahu apa yang membuat mereka tertawa.

Penerjemah berkata: 
“Anak muda ini memohon maaf karena beliau belum memperkenalkan dirinya pada kita.”

Ternyata anak muda itu adalah Sri Sultan…..

Perisitiwa yang sama terjadi ketika kunjungan kami kepada Sultan Bahaw Walbor di Pakistan. 

Ah.. apa dosa kami..?
Kami melihat gambar Sri Sultan terpajang di dinding dengan memakai Mahkota berhias, leher yang dipenuhi kalung mutiara serta kain bermotif yang menutupi dada.. Namun kini dihadapan kami, kami melihat pemuda kecil dengan kulit sawo matang yang penampilannya tak berbeda dengan kami hamba-hamba Allah yang miskin ini.

Percayalah tuan-tuan..
Aku masih tak tau karena merasa malu, bagaimana aku harus berpisah dengan Raja yang mulia ini. Mulia dengan Ishlah yang dilakukannya, mulia dengan agama serta kecintaannya terhadap ilmu. Juga mulia karena kedermawanannya. Ketawadhuannyalah yang membuat dia mau berjalan melepas kepergian kami hingga pintu Keraton..

(Fii Andunisia, hal: 128)

Attikel: Aan Chandra Thalib
Gambar: Toko Ihya’ Jogja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: