Antara ‘Milikku’ dan ‘Karunia Rabb-ku’

27 Nov

 

Ditulis oleh Rizky Tulus pada 11/18/2013 07:41:00 AM
 
بسم الله الرحمن الرحيم

Ada pelajaran yang sangat bagus yang patut kita renungkan bersama, di dalam Al-Qur’an terdapat gambaran tentang dua sifat yang saling berlawanan antara orang-orang yang bersyukur dan orang-orang yang kufur akan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

وليحذر كُلَّ الحذر من طغيان “أنا”، و”لى”، و”عندى”، فإن هذه الألفاظَ الثلاثةَ ابتُلى بها إبليسُ، وفرعون، وقارون
“Berhati-hatilah dengan berlebihan dalam perkataan, “Aku”, “Milikku”, “Aku Punya”. Sungguh, telah diuji Iblis, Fir’aun, dan Qarun dengan kata ini.”[1]

Apa maksud dari perkataan beliau ini? Padahal sih kelihatan sepele, tapi sebenarnya Iblis, Fir’aun, dan Qarun telah diuji dengan tiga kata ini dan mereka semua gagal. Ujian seperti apa? Dan konsekuensi apa ketika mereka gagal? Mari kita simak bersama-sama.

Pertama, kita akan berbicara mengenai Iblis terlebih dahulu. Siapakah Iblis? Jangan salah sangka kalau iblis itu sedari awal sudah menjadi makhluk pembangkang. Bahkan sebenarnya dulu dia ini ahli ibadah, bayangkan… (gak perlu dibayangkan sih, cukup dengan difahami) beratus-ratus tahun beribadah bersama para malaikat. Terus kenapa bisa jadi makhluk paling pembangkang dan kafir? Karena dia diuji dengan kata “Aku”. Iblis dengan lancang berkata kepada Allah ketika diperintahkan untuk bersujud kepada Nabi Adam ‘alaihissalam,

أَنَا خَيْرٌ‌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ‌ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

Aku lebih baik dari dia, Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A’raf: 12)

Hingga akhirnya Allah mengusirnya dari surga,

فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ‌ فِيهَا فَاخْرُ‌جْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِ‌ينَ

“Turunlah kamu dari surga itu. Tidak sepatutnya kamu menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.” (QS. Al-A’raf: 13)
Sekarang sudah tahu? Iya, Iblis merasa sombong dan lebih baik dari Adam. Kemudian muncullah sifat hasad pada dirinya sehingga dia berusaha menjerumuskan Adam dan Hawa yang berujung dengan dikeluarkannya Adam dan Hawa ‘alaihimassalam dari surga. Untuk iblis, selain dikeluarkan dari surga dia juga diadzab oleh Allah dengan dijerumuskan ke dalam api neraka selama-lamanya kelak di hari akhir.

Sungguh sangat mengerikan akibat dari sombong ini, dia dulunya makhluk yang banyak beribadah akhirnya berubah menjadi makhluk paling kafir dan berujung dengan siksaan neraka jahannam, wal iyadzu billah.

Kedua, tentang Fir’aun. Manusia angkuh lagi melampaui batas. Padahal telah dikaruniakan kepadanya kekuasaan dan dibentangkan baginya wilayah yang luas. Dikaruniakan kepadanya berupa perhiasan dan harta benda serta kehidupan dunia. Hingga menyebabkan dia lalai, menganggap semua itu adalah miliknya. Fir’aun berkata kepada kaumnya,

يَا قَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ‌ وَهَـٰذِهِ الْأَنْهَارُ‌ تَجْرِ‌ي مِن تَحْتِي

“Wahai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini milikku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku?” (QS. Az-Zukhruf: 51)

Fir’aun dengan angkuh dan kesombongannya ini, semakin menjadi-jadi. Puncak kesombongannya adalah menganggap dirinya adalah Rabb yang memiliki segala sesuatu!

فَحَشَرَ‌ فَنَادَىٰ فَقَالَ أَنَا رَ‌بُّكُمُ الْأَعْلَىٰ

“Maka dia (Fir’aun) mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya (seraya) berkata, ‘Akulah rabbmu yang paling tinggi!’” (QS. An-Nazi’at: 23-24)

Akhirnya Allah murka kepadanya,
فَأَخَذَهُ اللَّـهُ نَكَالَ الْآخِرَ‌ةِ وَالْأُولَىٰ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَ‌ةً لِّمَن يَخْشَىٰ

“Maka Allah mengadzabnya dengan adzab di akhirat dan adzab di dunia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya).” (QS. An-Nazi’at: 25-26)

Kemudian yang ketiga, Qarun. Seseorang dari bani Isra’il yang Allah lebihkan dari sebagian yang lain berupa perbendaharaan yang amat banyak.

وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ

“Dan Kami telah anugrahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat.” (QS. Al-Qashash: 76)

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي

Qarun berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang aku punya.” (QS. Al-Qashash: 78)

Qarun merasa sombong dengan dengan apa yang telah dia capai, menganggap itu semua semata-mata karena ilmu yang ada pada dirinya. Dia menganggap bahwa harta dan benda yang dia miliki merupakan hasil dari keseriusan dan kecerdasannya semata. Merasa tidak ada seorang pun yang ikut campur di dalamnya. Hal inilah yang akhirnya menyebabkan kufur terhadap nikmat yang Allah karuniakan kepadanya. Hingga Allah murka kepadanya,

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِ‌هِ الْأَرْ‌ضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِن فِئَةٍ يَنصُرُ‌ونَهُ مِن دُونِ اللَّـهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنتَصِرِ‌ينَ

“Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap adzab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (QS. Al-Qashash: 81)

Lihat bagaimana Iblis, Fir’aun dan Qarun mengatakan satu kata yang sama: “Ini Aku”, dan kita tahu bagaimana akhir kehidupan mereka. Tragis..

Sungguh benar apa yang dikatakan oleh banyak ahlul ilmi, orang yang mendalam ilmunya. Bahwa ujian merupa kepedihan hidup banyak orang yang bisa lulus dengan kesabaran. Akan tetapi ketika dihadapkan dengan kenikmatan justru banyak yang tergelincir, kufur nikmat, sombong, lagi lalai.

فَإِذَا مَسَّ الْإِنسَانَ ضُرٌّ‌ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِّنَّا قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ ۚ بَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَ‌هُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.’Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.” (QS. Az-Zumar: 49)

Jangan kita sangka ujian di dalam hidup itu hanya berupa kepedihan saja, kenikmatan itu juga sebagai bentuk ujian, justru lebih berat..

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah -seorang tabi’in-, beliau berkata,

كان يقال : ليس بفقيه من لم يعد البلاء نعمة والرخاء مصيبة

“Dahulu dikatakan: bukanlah seorang faqih (yang memahami agama secara mendalam) yang tidak menganggap ujian berupa musibah sebagai nikmat dan ujian berupa kesenangan sebagai musibah.”[2]

Sekarang memasuki pembahasan terakhir, kebalikan dari mereka bertiga. Inilah manusia-manusia yang memiliki kemuliaan, orang-orang yang jujur dengan keimanannya, kita akan menemukan jalan cerita yang happy ending. Bukan dongeng tapi kisah nyata yang benar-benar memiliki kadar ibrah yang luar biasa. Semoga kita termasuk orang-orang yang mengikuti jalannya.

Pertama, Nabiyullah Yusuf ‘alaihissalam. Bisa kita baca kisahnya dengan jelas pada Surat Yusuf, surat ke-12. Tidak perlu banyak tafsir untuk memahaminya karena surat ini mudah untuk dipahami. Bagaimana perseteruannya dengan saudara-saudara kandungnya sendiri, dibuang hingga menjadi budak. Fitnah dari istri Al-Aziz, hingga akhir yang bahagia, happy ending. Allah berikan kemuliaan, kedudukan agung di sisi manusia dan kembali bertemu ayahanda dan saudara-saudaranya seraya bersyukur kepada Allah,

أَنَا يُوسُفُ وَهَـٰذَا أَخِي ۖ قَدْ مَنَّ اللَّـهُ عَلَيْنَا ۖ إِنَّهُ مَن يَتَّقِ وَيَصْبِرْ‌ فَإِنَّ اللَّـهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ‌ الْمُحْسِنِينَ

“Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami.” Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (QS. Yusuf: 90)

Kedua, Dzulqarnain ‘alaihissalam yang Allah berikan kepadanya kekuasaan timur sampai barat, seorang pemimpin yang ‘alim lagi adil.

وَيَسْأَلُونَكَ عَن ذِي الْقَرْ‌نَيْنِ ۖ قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُم مِّنْهُ ذِكْرً‌ا إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الْأَرْ‌ضِ وَآتَيْنَاهُ مِن كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا فَأَتْبَعَ سَبَبًا

“Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah, ‘Aku akan bacakan kepadamu cerita tantangnya.’ Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka diapun menempuh suatu jalan.” (QS. Al-Kahfi: 83-85)

Hingga suatu ketika beliau menjumpai suatu kaum dan meminta beliau membangun dinding dari serangan Ya’juj dan Ma’juj,

قَالَ هَـٰذَا رَ‌حْمَةٌ مِّن رَّ‌بِّي ۖ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَ‌بِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ ۖ وَكَانَ وَعْدُ رَ‌بِّي حَقًّا

“Dzulqarnain berkata, ‘Ini (dinding) adalah karunia dari Rabbku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Rabbku itu adalah benar.” (QS. Al-Kahfi: 98)

Dan yang terakhir, ketiga, Nabiyullah Sulaiman ‘alaihissalam. Nabi Daud ‘alaihissalam mewarisikan kepadanya kerajaan yang tiada tandingan. Ketika beliau memerintahkan pasukannya untuk memindahkan singgasana ratu Bilqis,

قَالَ الَّذِي عِندَهُ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَن يَرْ‌تَدَّ إِلَيْكَ طَرْ‌فُكَ ۚ فَلَمَّا رَ‌آهُ مُسْتَقِرًّ‌ا عِندَهُ قَالَ هَـٰذَا مِن فَضْلِ رَ‌بِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ‌ أَمْ أَكْفُرُ‌
“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab, ‘Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.’ Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata, ‘Ini termasuk kurnia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya).” (QS. An-Naml: 40)

Yusuf, Dzulqarnain, dan Sulaiman, para penguasa yang shalih, semuanya pun punya satu kata: “Ini Karunia Rabbku

Maka, manakah yang akan dipilih? Menjadi senasib dengan Iblis, Fir’aun, dan Qarun, dengan menyombongkan diri kita. Atau mengikuti jejak langkah Yusuf, Dzulqarnain, dan Sulaiman dengan bersykur dan merendah kepada Rabb kita?

فَاعْتَبِرُوا يَٰأُوْلِى البْصَٰرِ

“Maka ambilah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.” (QS. Al-Hasyr: 2)

Dan sebagai tambahan, hendaklah setiap diri kita menyadari, tidaklah sepantasnya untuk bersikap sombong dan angkuh. Bukan hanya masalah keduniaan saja. Tetapi masalah amal ibadah, merasa lebih senior dan lebih lama mengikuti kajian Islam misalnya. Telah banyak mengikuti kegiatan sosial ini itu, acara ini dan itu lantas merasa lebih dibandingkan yang lain. Tidak seperti itu saudaraku, sebagai muslim yang benar imannya hendaknya dia tawadhu’ dan berusaha ikhlas karena Allah Ta’ala.

Allah sama sekali tidak menilai banyak-sedikit amaliah seseorang akan tetapi Allah melihat kadar ibadah seorang hamba itu sendiri, siapa yang beramal dengan paling baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

تَبَارَ‌كَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ‌ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 1-2)

Allah mengatakan “ahsanu ‘amala” (lebih baik amalnya) bukan “aktsaru ‘amala” (lebih banyak amalnya). Dan amal yang baik adalah amal yang ikhlas mengharap ridha Allah semata dan sesuai dengan petunjuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Walaupun telah banyak amalnya tapi tidak memiliki kadar keikhlasan, maka sia-sia, sia-sia..

Sungguh amalan yang kecil dan remeh namun ikhlas bisa berbuah pahala dan ampunan yang sangat besar, meskipun hanya membuang duri dari jalan, membuang duri dari jalan..

عن أبي هريرة رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم: بينما رجل يمشي بطريق، وجد غصن شوك فأخذه، فشكر الله فغفر له

Abu Hurairah berkata: Bahwasanya Rasulullah bersabda, “Ada seseorang yang ketika berjalan di sebuah jalan dia menemukan potongan duri, lalu diambilnya potongan duri tersebut dan disingkirkan dari jalan. Maka Allah bersyukur atas apa yang perbuatnya tersebut lalu Allah mengampuninya.[3]

Maka janganlah kita meremehkan orang lain dan merasa sombong atas apa yang telah kita raih baik berupa harta maupun amal ibadah. Wallahu Ta’ala a’lam.

 
 

Surakarta, 14 November 2013

Rizky Tulus

Catatan kaki:
[1] dalam Kitab Zaadul Ma’aad juz 2, karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah
[2] dalam Kitab Az-Zuhd hal. 456, karya Ibnul Mubarak
[3] Shahih, riwayat Bukhari no. 2292, Muslim no. 4743

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: